Mengambil Hikmah Dari Standar Kecantikan Suku Mursi Di Ethiopia


Tampil cantik dan menarik adalah dambaan bagi semua wanita didunia ini. Banyak wanita berlomba-lomba untuk tampil mempesona guna memikat hati sesorang ataupun sekedar untuk menunjukkan bahwa dirinya mempunyai anugerah yang sempurna. Dengan adanya dorongan-dorongan semacam itu, mulai bermunculanlah ahli-ahli kecantikan yang menawarkan berbagai macam produk dan ilmu perawatan wajah hingga pengelolaan bentuk tubuh agar tampil seksi dan menawan.

Standar Kecantikan Suku Mursi dengan Lip Plate

Namun di jaman yang sudah modern ini ada juga wanita yang masih memelihara dan menjaga kelestarian budaya mereka. Mereka masih mampu bertahan ditengah godaan berbagai keindahan yang ditawarkan jaman modern. Menjadi cantik versi suku Mursi di Ethiopia ini terbilang sangat aneh. Mereka menilai kecantikan seorang wanita dari seberapa lebar ukuran mulutnya. Semakin lebar mulut seorang wanita, maka semakin cantiklah dia.

Mengambil Hikmah Dari Standar Kecantikan Suku Mursi Di Afrika

Tradisi ini disebut ‘labret’ atauput ‘lip plate’, (piring dimulut, mulut piring, mulut besar, atau apalah sesukanya) di mana para wanita di suku ini harus mulai memperbesar ukuran mulutnya pada usia 13 hingga 16 tahun.

Tradisi ini memang sangat sakit dan menyiksa, karena memang bagian bawah mulut harus diiris sepanjang 1 hingga 2 cm lalu kemudian dimasukkan piringan bulat ke dalam irisan tersebut. Setelah 2 atau 3 minggu ataupun luka sudah dinyatakan benar-benar pulih, piringan tersebut nantinya akan diganti dengan ukuran yang lebih besar hingga mencapai diameter 10-15 cm bahkan ada yang hingga 25 cm. Mereka berlomba-lomba memperbesar lingkaran piring mereka, Bahkan ada juka yang mencoba mengganti bentuk piring menjadi segitiga dan lainnya.

Hikmah Berharga Bagi Kaum Ibu

Meski begitu sangat menyakitkan, tradisi tersebut harus tetap dilakukan. Bagi wanita yang beraniĀ  menolaknya maka akan mendapatkan sanksi sosial. Piring di mulut para wanita suku Mursi ini menjadi tanda ataupun simbol bahwa mereka memiliki daya tahan tubuh yang kuat, kedewasaan dan kecantikan.

Terlahir sebagai seorang wanita memang bukan pilihan, namun bagaimana menjadi seorang wanita yang menanggung tugas yang sangat berat adalah pilihan. Bagaimana seorang ibu yang senantiasa berjungkir balik menjaga, merawat, melayani keluarganya dari waktu masih gelap hingga gelapnya malam memang tidak akan bisa disepadankan dengan kaum pria.

wanita dan buku
Pada masa remaja hingga sampai usia perkawinan para wanita suku Mursi berlomba-lomba meyakinkan lawan jenisnya untuk menunjukkan dirinya lah yang bisa diandalkan dalam hal mendampingi suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Penulis beranggapan bahwa para leluhur suku Mursi mempunya cara tersendiri untuk mendidik para kaum hawa bagaimana menjadi wanita yang tangguh dan dapat dipercaya. Menjadi penyejuk dalam berkasih sayang guna membantu suaminya mewujudkan keluarga yang harmonis.

Mari kita cek satu persatu dari tradisi “lip plate” tersebut dari awal hingga akhir. Pada saat pengirisan mulut di usia remaja, bisa didibayangkan betapa sakit dan pedihnya. Namun Mereka tetap tegar menghadapinya. Disaat luka sudah sembuh, mereka harus menggantinya dengan ukuran yang lebih besar lagi, lagi dan lagi. Hingga pada akhirnya mereka kesulitan berbicara pada saat memakai lip plate tersebut. Dengan demikian ada indikasi lain atau maksud tersembunyi yang memang harus diteladani selain wanita harus kuat, dewasa, dan cantik yaitu agar senantiasa menjaga “mulutnya” supaya kehormatan sebagai wanita tetap terjaga. Sudah banyak yang bilangkan bahwa wanita memang mempunyai 2 mulut.

Oleh sebab itu pepatah mengatakan bahwa surga itu ditelapak kaki ibu. Kerana memang faktanya demikian. Kenikmatan surga itu tak sebanding dengan kasih sayang dan penderitaan maupun pengorbanan seorang ibu. Mari kita renungkan bersama sejak awal proses perkawinan, melahirakan, mengasuh, hingga membesarkan serta mendidik anak, peran para ibu sangatlah utama dan dekat dengan anaknya. Disadari atau tidak wanita yang memilik mental baja dan memeiliki kecerdasan budi yang tinggi akan sangat berbeda dengan wanita yang hanya bermanis-manis muka saja tanpa budi luhur dalam hal mendidik generasi berikutnya.

Banyak orang bijak mengatakan bahwa melihat karakter seuatu bangsa bisa melalui wanita dan anak-anakya. Maka kecantikan dalam atau disebut inner beauty maupuk akhlaku karimah memang lebih utama dibanding kecantikan fisik. Oleh sebab itu para wanita memang harus tetap memelihara kecantikan dan kehormatannya sebgai “pabrik” generasi penerus.

Sudah sepatutnya kita menghargai dan mengamalkan cita-cita R.A. Kartini dan tokoh-tokoh wanita lainnya guna mendidik generasi penerus bangsa yang kita cintai.

Tulisan ini bukan bermaksud mendeskriditkan para wanita jaman sekarang. Hanya sekedar perbandingan dan penilaian dari sebuah tradisi suku pedalaman yang memang patut diteladani. Semoga ber manfaat.

Semua Orang Boleh Menulis Di TRIMUKTI, Mulai Menulis!

Maz Iwan

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *